Osprey Atmos AG 50 Cinnabar Red – The Review

Review Osprey Atmos AG 50

Hai, Fans. Setelah dua bulan tidak menulis, sepertinya kangen juga buat ngetik-ngetik. ya, mumpung lagi nggak ada kesibukan, mumpung longgar, dan mumpung kopinya sudah sold out. Kali ini (untuk kesekian kali) adalah giliran si burung emprit Osprey tipe Atmos AG 50, yang konon mitosnya mempunyai fitur Anti-Gravity. We-O-We, yes anti gravity, berasa melayang-layang, dan memang benar seperti itulah perasaan saya dulu pas pertama kali pegang barang ini, bahagia, gembira, nggak cukup kalau mau dituliskan dengan 1-2 kata, mungkin kalau 3 kata cukup lah biar nggak lebay. Sampai akhirnya kegembiraan itu sirna secara perlahan seiring dengan mulai boomingnya ransel ini, alias banyak yang pake. Apalagi sekarang udah mulai ada KW nya. hmmmm

osprey-atmos-ag-50

Osprey Atmos AG 50

Okay, sejenak bercerita tentang sejarah adanya ransel ini menempel di dinding kamar yang pengap. Jujur, terbelinya ransel ini sebenarnya bukan karna kepengennya saya, tapi karna permintaan sang mantan pacar. Dengan dalih ini ransel baru keluar, belum banyak yang punya, bahkan di luar negeri juga masih jarang yang pake, dan janji nggak nongkrong di kafe sebulan. Sebagai lelaki yang gagah berani, tangguh, dan penuh pesona, tentu adalah sebuah dosa besar apabila membiarkan air mata membasahi pipi seorang wanita. Maka, dengan senyum klimis dan rambut awut-awutan, diambillah token Mandiri dengan tangan kiri. Transfer berhasil, dengan jelas terlihat senyuman diujung bibirnya, dan juga senyuman kecut di layar hape yang sedang dalam posisi terkunci.

Oiya, meski osprey atmos ini tadinya diagendakan untuk dipake sang mangtan yang secara gender doi adalah seorang wanita tulen, tapi kenapa milih Osprey atmos bukan aura? simpel sih, karna warnanya Oren (Cinnabar Red, lah kalau di web nya), sedngkan pada saat itu tipe Aura yang tersedia adalah warna putih tua atau hitam muda, yang dalam kelanjutannya sering disebut abu-abu. Bersyukur dan beruntung sekali, meskipun statusnya milik orang lain, saya masih diberi kesempatan oleh Tuhan YME untuk menggilir ransel ini beberapa kali.

Okay, fokus. Kesan pertama dan yang paling menonjol dari tas ini adalah backsistem dan waistbelt nya yang “aneh”. Aneh karena baru kali ini saya melihat dan memegang waistbelt yang berupa rangkaian langsung dari backsistem. Alih-alih menggunakan fitur seperti ransel merk lain yang waistbelt-nya goyang ke kanan dan ke kiri seiring pergerakan pinggul pengguna, si atmos ag ini malah menggunakan waistbelt yang sangat rigid, kaku, dan sama sekali tidak fleksibel. Yang bertujuan untuk memeluk rapat pinggang pengguna seperti halnya waktu nggendong orang, hmmmm. Untuk fitur lain sepertinya hampir-hampir sama dengan kebanyakan ransel yang lain lah.

 

 

DCIM100MEDIA

dari kiri ke kanan: Osprey talon 44, Osprey Ariel 65, Osprey Atmos AG 50, Osprey Exos 58, Osprey Atmos 65

 

Osprey Atmos dilihat dari segi bahannya, termasuk tebal dan diperkirakan cukup tahan abrasi sehingga mumpuni untuk dihajar habis-habisan (kecuali bagian mesh), karna memang ransel ini ditujukan untuk bisa digunakan dalam perjalanan multi-day, meskipun memang tidak bisa dikatakan sebagai load-hauler.

Kita bahas dari atas lah biar gampang, dari top lid dulu. Dengan firur standar, beberapa kantong tambahan dengan zipper untuk nyimpen printilan yang sewaktu-waktu diperlukan. Top lid ransel ini bisa dilepas atau removable. Dibawah toplid ada flap jacket, bisa digunakan sebagai penutup apabila toplid tidak dikehendaki untuk digunakan. Meskipun secara pribadi, saya merasa sangat culun sekali kalau ransel ini tanpa toplid.

Di bagian depan ransel ini ada kantong mesh elastis yang bagi beberapa orang mungkin adalah tabu, karna seringkali mesh lebih cepat rusak terkena goresan daripada bagian lain. Tapi menurut saya, ini fitur yang pentuing karna bisa buat tempat jas hujan, atau bisa dipakai untuk tempat penyimpanan sementara barang-barang yang tercecer karna tertinggal pas waktu packing.

Backsistem ransel termasuk melengkung, nggak cocok buat lo lo yang packingnya pake matras digulung biar mbodi.  Di dalamnya ada tempat waterbladder meskipun saya jarang sekali pake. Compression samping standar seperti halnya ransel lain. Mesh pocket di samping kanan kiri dengan 2 opening, yaitu ke atas dan miring ke depan, memudahkan buat ngambil botol mimik tanpa harus melepas ransel atau meminta bantuan teman buat ngambilin, bintang lima lah buat ini.

Kembali ke fokus, backsistem! Beberapa kali penggunaan antara lain ke slamet (yang ini kadang tukeran sama sang mantan), Saya merasakan backsistem cukup nyaman. Cukup membagi beban secara merata. Waistbelt juga memeluk erat, seperti pasangan sendiri. Tapi pada saat pendakian gunung lawu vi candi cetho, saya merasakan hal yang sama sekali berbeda. Hal ini dikarenakan barang bawaan yang terlalu overload untuk kapasitas saya, sekitar 18kg. Padahal titik nyaman saya membawa ransel adalah pada 12kg maksimal berikut ranselnya.

Memang tidak terlalu merasakan keluhan di bagian shoulder harness atau pundak, dan punggung, tapi sangat menyiksa di bagian pinggang, mengingat perjalanan yang sangat santai, pelan-pelaaaaan, dari basecamp cetho sampeai ke pos 5 mungkin memakan waktu sekitar 9jam termasuk beberapa kali break dan refill tenaga. Waistbelt yang rigid mungkin salah satu penyebabnya. Rigitnya waistbelt ini tak lepas dari rangkanya yang kaku, mungkin ada kawatnya kali ya di dalem. Yang akhirnya beradu dan bergesekan dengan tulang yang cuma berlapis kulit, tanpa daging. Yoih, saya kurusnya kebangetan sih 🙁 .

Padahal hal ini sama sekali tidak terasa pada saat perjalanan di slamet, mungkin sekitar 3 jam perjalanan naik dan 3 jam perjalanan turun saya menggendong ransel ini. Pun pada saat itu beban ransel mungkin hanya sekitar 9kg berikut ransel itu sendiri. Saat itu merasa sangat nyaman, meskipun ada rasa nyeri di pinggang waktu bermanuver mendadak atau sedikit melompat di turunan curam.

Kesimpulannya, mungkin untuk beberapa orang, Osprey Atmos AG ini akan sangat nyaman. Tapi kalau kamu tergolong manusia tulang dan kentut doang, lebih baik memilih ransel lain. Sayang kulit pinggul lecet nanti. Tapi kalau memang tetap mau memiliki ransel ini karena udah naksir berat, saya sarankan untuk dipakai di gunung dengan perjalanan tidak lebih dari 6 jam sekali jalan dan dengan beban maksimal 15kg termasuk ranselnya.

 

DCIM100MEDIA

Osprey Atmos AG 50 digendong mangtan pacar, Osprey Exos 58 digendong mahluk paling tampan tahun 2016

Akhirnya, setelah beberapa kali pakai dan udah banyak yang punya, diputuskan ransel ini untuk dipindahtangankan alias dijual.

 

 

tags: osprey atmos 65 ag osprey atmos ag osprey atmos 50 ag osprey atmos 50 ag review osprey kestrel 48 jual osprey atmos 65 ag

Comment

One thought on “Osprey Atmos AG 50 Cinnabar Red – The Review

Leave a Reply

Your email address will not be published.