Catatan Perjalanan – Pendakian Gunung Lawu Via Basecamp Ceto-Cemoro Kandang

 

Setelah lebih dari setahun absen dari dunia persilatan, akhirnya saya kembali, dengan semangat yang lama, masih seperti biasanya, tak lupa menghaturkan kata “capeeeeekkkkk” sepanjang jalur. Pendakian ini berawal dari seorang Himamul Ulya, yang kemudian panggil saja pakdhe, teman semasa kuliah (semasa sekarang juga sih), yang beberapa kali ngajakin naek gunung, terlebih setelah dia sukses menyandang gelar barunya sebagai seorang jomblo, manusia dengan kasta paling tinggi di muka bumi, meski seringnya tak menyadari. berkali dia mengajak, berkali itu pula saya bilang “sik, durung iso” –nanti, belum bisa. Dikarenakan keadaan memang mendukung untu lebih banyak standby di rumah, menjaga Freija kecil, ngopi di lincak depan rumah sampai hari semakin larut, menonton film streaming yang tak pernah patah arang hanya karena Kominfo, atau menyalurkan hobi klasik saya –bekerja, menafkahi anak dan istri.

Suatu saat, saya bilang sama istri tertjintah “aku munggah gunung ya, diajak pakdhe”. Dijawabnya “yoh”, hanya segitu doang jawabnya. Mungkin bagi lelaki lain itu adalah sebuah warning untuk tidak melanjutkan niatan, namun tidak bagi saya karena saya anggap itu adalah lampu hijau, lebih hijau daripada rumput tetangga. Kami atur waktu, lalu ditentukan tanggal 20-21 Juli 2019 kita ngarit. Direncanakan naik via candi ceto emudian turun melalui basecamp cemoro kandang.

Lama tidak naik gunung, rasanya sedikit ragu, terlebih tentang perlengkapan yang mesti dibawa, mengingat-ingat kembali, beberapa kali re-checkk untuk memastikan. Setelah yakin tak ada yang kurang, bismillah, kita berangkat. Kami berangkat hanya berdua, karna teman-teman yang lain sudah mempunyai kesibukan masing-masing sementara enggan untuk mencari partner baru yang belum pernah naik bareng sebelumnya. Jam 7.00 kita berangkat dari meeting point di rumah saya di kartasura (pakai A), naik motor istimewa sih putih bulukan debu ampelas. Kami menuju ke basecamp cemoro sewu. Cuaca pagi itu kurang mendukung, sampai di gondosuli turun hujan dan kabut, jara pandang kurang dari 20 meter. Pakdhe sempat ragu, berhenti, bertanya, “pie, lanjut gak?”, “lancrotkan” kataku.

Sampai di BC cemoro sewu sekitar jam 8.50, cuaca semakin menjadi, sepatu basah kuyup karan kecipratan air dari ban, untungnya atasan aman. Kita pesan makan di warung, sambil ngitung kancing baju apakah jadi atau tidak, makan, kenyang, bego. Gojekan  sama pak gendut, sopir ompreng carteran, beliau meyakinkan bahwa basecamp ceto cerah, dan rame pendaki, katanya banyak cewe-cewe cakepnya yang belakangan kita ketahui itu hanya akal bulusnya agar kami jadi ke bc ceto, wahahah. Okelah kita ke bc ceto carter mobil dengan biaya 250rb, mau diisi 2 atau 5 orang biayanya sama. Haduh, boros di hari yang miskin.

Sampai di bc ceto ternyata benar cerah, bersahabat. Entah jam berapa sampai, lupa, kita ngurus pendaftaran, bayar. dari bc kita dibekali peta, yang kerennya peta ini yang benar-benar paling menggambarkan situasi sebenarnya daripada peta jalur yang banyak beredar di google, berikut ada jarak antar POS, elevasi, situasi medan, dan estimasi waktu. Salut buat pihak pengelola basecamp.

Sekali lagi kita re-check perlengkapan, akhirnya menemukan ada yang kurang. Iya, rokok saya yang harusnya 3 bungkus, Cuma ketemu 2, yang 1 raib entah kemana, hiks rasanya kepengen nangis bombay. Yasudah, saya putuskan untuk meminta-minta apabila nanti gak cukup. Ngudut sebats, kita tancap gas jam 10.40. Kita sepakati untuk kali ini bukan perjalanan santai sekali seperti biasanya, hanya sebut saja santai, tanpa sekali. Tidak ada break trus ngerokok di jalur, mau ngerokok hanya di pos, sambil istirahat. Padahal sih hanya dalih saya saja, takut gak cukup rokonya kalo banyak-banyak break.

Sebisa mungkin kita harus berada di depan estimasi yang tertulis di peta, karna target kita sebelum jam 6 harus sudah sampai di lokasi camp sesuai rencana, yaitu di gupak menjangan. Apabila di peta tertulis estimasi 80 menit, maka kita targetkan  60 menit harus sampai, syukurnya ternyata masih bisa kekejar.

Di pos 1, kita berhenti sejenak, minum, ngerokok bentaran belum kelar langsung lanjut sampai pos 2 berhenti sejenak lagi. Kita break lama di pos 3, mungkin ada sekitar 50 menitan. Gelar matras, keluarin camilan. Camilan siang itu ada roti, snack bar, kacang campur, sama udud pastinya. Di sini umumnya pendaki break lama, ada sumber air juga buat yang mau ngisi air. Tetapi sedikit susah nyari lokasi yang kondusif karna banyak berdebu. Selesai break, lanjut ke pos 4. Setengah jalan ke pos 4 mulai kerasa nanjaknya, kerasa capeknya, kerasa nafas yang engap karna debu nyumpel di hidung meski sudah pake masker di sepanjang jalur. Perlu diketahui bahwa jalur candi ceto ini sangat-sangat berdebu di musim kemarau, jadi sangat disaranan untuk pake masker. Dan bagi kalian wahai pendaki yang suka lari-larian pas turun di jalur penuh debu, kalian bedebah! Kalau lagi badmood, kita begal juga nih. Oiya, untuk trek dari BC sampai pos 4 ini anggep saja semua menanjak, yaelah namanya juga naek gunung.

Skip skip skip, akhirnya kita sampai di pos 5 bulak peperangan. Trek lumayan ada beberapa bonus datar, bisa bikin auto-ganteng. Sampai sini, cuaca mendadak berubah menjadi tak bersahabat, beberapa kali angin bertiup kencang, disertai embun yang turun, dingin brrrrrr. Sampai di tanjakan terahir sebelum gupak menjangan -banyak yang bilang  tanjakan cinta mini, rasanya sudah benar-benar tenaga terkuras habis, lapar, ngantuk, dingin jadi satu. Rasanya ingin cepat-cepat sampai camp, lalu ada mamang-mamang burjo di sana, kita mau pesan magelangan, ealahhh.

Akhirnya kita sampai di gupak menjangan tepat jam 17.00, sudah ada beberapa tenda berdiri di sana, tertutup rapat, karna cuaca saat itu sangat mendukung untuk berkelon. Cuaca yang gerimis, angin yang bertiup lumayan kencang, dan malam yang kian merapat. Kita bongar tas, segera dirikan tenda karna badan mulai manggigil brrrrrrrrrr. Selesai, kita ganti pakaian termasuk sempak, pakai jaket hangat, lumayan, tapi rasanya masih enggan untuk keluar tenda.

Bingung mau ngapain, kita putusan buat makan malam saja. Bekal untuk makan malam adalah Fiesta Ready Meal, nasi kotak yang sudah matang lalu dibekukan di dalem freezer. Dalam peket sudah termasuk lauk, kebetulan saya beli yang lauknya rendang. Ada beberapa lauk sih, alasan beli rendang ya karna lagi pengen aja. Saya sendiri gak terlalu menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi sama ini makanan perihal porsi rendangnya, pun rasanya. Tapi begitu dibuka, wuihhh banyak juga rendangnya, ada sekitar 4 potong ukuran kecil dan sedang, ya kalau ditotal yain lebih gede daripada beli di nasi padang deket rumah. Lengkap dengan daun singkong dan sambal hijau. Panasin nasi sekitar 12 menitan, karna ternyata nasinya masih beku meski udah 12-an jam di luar freezer. Oke mateng ganti panasin rendang, yang ini sekitar 4 menitan udah anget. Ternyata rasanya jauh lebih enak daripada ekspektasi saya, benar-benar rasa rendang, gak kaleng-kaleng. Mungkin orang-orang bakal bilang “lauk paling nikmat itu adalah rasa lapar, jadi makan apa saja pasti enak kalau lagi laper”. No no no, I totally disagree, let me tell the truth “lauk paling enak itu adalah rendang yang dimakan pas lagi laper-lapernya”.

Kelar makan, kita bikin kopi. Mau ngopi di luar anginnya kenceng, jadinya kita buka pintu tenda sambil liatin orang-orang yang baru dateng, setup tenda di tengah dinginnya malam, di antara pekatnya kabut, sambil sesekali nyeruput kopi. Kopi belum habis, pakdhe sudah molor duluan, padahal waktu baru menunjukkan pukul  19.40. Ini  tugas saya untuk ngabisin kopi, mubazir adalah temannya mr satan. Begitu kopi habis, saya rebahan, rencana tidur sebentar, bangun sekitar jam 22.00, mau ngopi lagi. Hla ndilalah ternyata bangun-bangun sudah jam 05.30, wuihhh istirahat terlama dan ternyenyak saya selama naik gunung, untung aja nggak ngiler.

Kita buka tenda, liatin pendaki lain pada summit, semangat sekali. Sementara kita milih buat bikin kopi, hihi. Kelar ngopi kita packing semuanya termasuk tenda. Kita berencana untuk lintas jalur, jadinya harus dibawa semuanya, penderitaaan ini belumlah usai ahahha. Maklum-lah kita bukan anak Yuel yang bawaannya enteng-enteng, kita cuma anak konvensional retjeh yang base weightnya 6 kiloan hiks. Lanjut perjalanan lagi, kali ini tujuan kita warung mbok Yem, buat sarapan. Di pasar dieng kita ketemu sama kelompok pendaki lain yang beberapa kali ketemu di jalur kemaren. Kita bagi cemilan lah, kita kasih snac bar, kacang campur, dan granola (nih, nak indie kopi senja granola). Ditanyain “ini apa mas?”, “udah makan aja, cukup buat sampe ke mbok Yem”. Andai yang saya kasih itu kacang dewa, mungkin energinya cukup buat sampai ke BC lagi.

Sampai ke mbok Yem di Argo Dalem, kita pesan makan. Sayang jawaban Mbok Yem gak mengenyangkan “sego ne mateng jam songo”, sedang itu masih jam 08.00. Saya sih bukan idealis kalau urusan makan, daripada nunggu 1 jam saya lebih milih buat pesen ke warung sebelahnya (FYI, sekarang ada 3 warung di Argo Dalem). Realistis saja lah, saya gak akan menukar 60 menit saya dengan sebuah cerita “aku mangan nggone mbok Yem”.  Akhirnya kenyang, kita summit bareng kelompok yang barengan dari pasar Dieng, kita udah kenyang, mereka masih lapar karna mau nunggu nasinya mbok Yem mateng, makan pas turunnya nanti.

Sampai di puncak, kita gak ambil foto di tugu, karna ya gitu-gitu aja puncaknya. Selain itu untuk gunung Lawu mungkin ini puncak ke-6 saya dari belasan kali ke sana. Sedangkan pakdhe mungkin yang ke-5. Kita gelar matras, bikin kopi. Eh teman-teman lapar yang tadi ternyata udah mau turun, mereka nyamperin bentar buat poto bareng katanya, ealahhhh dari dulu yang ngajakin poto bareng kok ya laki mulu, suka sedih hikssss.

Jam 10 lebih berapa lupa, kita turun, lewat cemoro kandang, eh kita poto2 dulu dah. Pertimbangan lewat cemoro kandangyang pasti dengkul bakal lebih aman meski wakktu tempuh jadi lebih lama daripada lewat cemoro sewu. Sampai pos 4 cokro suryo kita istirahat sebentar, ngudud. Ternyata sekarang ada warung di sana gaes, hirrrrrr. Kelar kita lanjut jalan. Dari pos 4 ke pos 3 kita sengaja milih jalur yang zig-zag daripada laur transek, lagi-lagi pertimbangan sayang dengkul. Jalur terkesan sangat jarang dilalui, beberapa ruas sudah tertutup rerumputan. Ranting-ranting perdu melambai ke jalur, beberapa kali berhasil bikin matras lipat nyangkut. Saya katakan sangat asri, aseli, sangat menyenangkan berjalan di sini, sangat sepi karna gak ketemu pendaki lain di jalur.

Akhirnya sampai pos 3, kita mendapati kehidupan lain di sana. Ada 2 tenda berdiri, 1 tertutup rapat, ada 2 cewek lagi masak, dan 1 laki yang lagi tidur. Sediit basa-basi “2 tenda aja mbak dari kemarin?”, “ada 5 mas, yang 3 udah dilipet, temen-temen yang laen pada naik ke atas”. Sejenak istirahat kita lanjut jalan lagi dong.

Trek selanjutnya lebih banyak melipir, muterin punggungan. Sampai pos bayangan yang ternyata ada bangunan barunya di sebalah bangunan yang lama, sangat bagus. Kita skip gak ada break kali ini. Lalu sampai pos 2 kita ambil break sedikit panjang. Bikin kopi, kita ngobrol-ngobrol omong kosong sampai ke keris, ninja, samurai, bahkan didi kempot. Entah berapa lama di sini, selama perjalanan turun sudah tidak memperhatikan jam lagi biar lebih santai.

Lanjut perjalanan turun, sampai pos 1 istirahat bentar lanjut lagi sampai basecamp jam 14.30-an. Istirahat lama, lalu jalan ke cemoro sewu ambil motor di parkiran rumah warga. Trus pulang ke rumah, ada Freija yang menanti heuuuuu. Lalu, sehari setelahnya ada telepon masuk “halo mas, ini dari BC ceto, KTP-nya ketinggalan, mas e udah pulang kan?”. Ebuseeeettttttttttttt !!!

Wuih panjang juga ya tulisannya, ini kalau tugas kuliah pasti dapet nilai 90++.  Sekedar masukan saja, kalau mau lewat candi ceto di musim kemarau ambil aja weekday karna kalau weekend sangat ramai, debunya kemana-mana, jauh lebih ramai dari terakhir saya naik lewat sini tahun 2015. Untuk jalur cemoro kandang sangat rekomended, lebih adem, lebih basah tanpa debu, dan tentunya sangat sepi karna kebanyakan yang lewat BC cemoro kandang adalah orang-orang yang hiking ke kawah candradimuka atau ke air terjun studio alam.

Comment

One thought on “Catatan Perjalanan – Pendakian Gunung Lawu Via Basecamp Ceto-Cemoro Kandang

  • I have noticed you don’t monetize indooutdoor.com,
    don’t waste your traffic, you can earn additional bucks every
    month with new monetization method. This is the best
    adsense alternative for any type of website (they approve all websites),
    for more details simply search in gooogle: murgrabia’s tools

Leave a Reply

Your email address will not be published.